Saya tidak jarang selalu bertanya “Mengapa dada manusia itu bergetar dengan cara yang sama tapi dengan perasaan-perasaan psikologis diri yang berbeda?” Ada saatnya kita berinteraksi dengan orang lain di lingkungan dengan perasaan yang muncul dan berkelindan seperti marah, senang, benci, tertawa riang, jengkel, rindu, dan lain sebagainya.

Namun juga kita berdialog dengan “diri” yang ada di dalam diri kita sendiri dengan penuh pertentangan, pertarungan argumen, tak jarang kerjasama untuk menyimpulkan atau mengambil keputusan hidup. Sekali lagi saya harus menjawab bahwa lokalitas budaya sebuah cara hidup adalah salah satu faktor yang menyebabkan cara kita untuk menjalani hidup, ada dorongan ingin melawan adat, tapi tak kurang pula diperhadapkan dengan kebudayaan yg mengakar dan kuat mengendalikan tindak dan tanduk kita.

Olehnya itu mengapa kita sebagai manusia tidak seutuhnya bebas mengeluarkan hasil kebijakan dialog diri kita dengan bebas meng-aktual-kannya di luar diri? Karena kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan dan kepentingan atas orang lain, kita menjadi berpikir bahwa kebebasan itu sendiri adalah ke-batas-an atas kesamaan perasaan dan pengharapan cita-cita yang sama dengan orang lain. Perasaan otentik kita tidak jarang dalam tiap harinya hanya diisi oleh situasi, dan keadaaan kebudayaan eksternal yang terberi sehingga proposisi-proposisi yang bisa kita jadikan dasar pengambilan keputusan hanya berdasarkan unsur-unsur asing; ke-ikutserta-an kita pada norma hidup masyarakat, kebiasaan, kejumudan, kemajuan atau kesepahaman bersama. Akhirnya kita merindukan kemajuan tapi saat yang sama kita teralienasi dari cita-cita tersebut dengan sangat berpikir dan merasa nyaman padahal kita hanya “taken for granted” menjalani hidup budaya kebiasaan.

Kebudayaan dan ke-diri-an adalah dua unsur yang menstimulus kerja-kerja diri seorang individu dan menyelibak menjadi relasi reaksi bagi alam kebudayaan. Seperti kita mengambil dan bekerja dengan cara yang tepat agar masa depan dirumuskan berdasarkan sesuai ilmu dan _laduni_ (pancaran) di dalam sebuah dimensi esoterik kita; horison alam diri kita, sehingga dikeluarkan dan diciptakan menjadi kreasi-ciptaan mewujud di alam kebudayaan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan tuntutan kepentingan kehidupan kita sebagai manusia; sebagai Kreator Prima yang membudaya dengan ciptaan kita sendiri. Menjelma dan mewujud eksternalistik ke luar dunia yang kita tinggali, mengikuti meneladani cara Tuhan dalam Penciptaan sejak dalam dimensi alam primordial.

Dalam ilmu psikologi manusia sebenarnya merekam semua alam kebudayaan dan dirinya dalam sumber stok-stok penyimpanan otaknya, mereka (memori) tersimpan dengan baik sejak masih dalam perut Ibu hingga kita berusia saat sekarang. Hanya saja dari sekian kenangan kebudayaan kita itu sejak masa kecil cenderung sulit diingat kembali melalui alam sadar, namun alam bawah sadar mampu menampilkan kembali masa-masa kebudayaan dan dialog diri saat lampau dalam hidup; caranya dengan merenungi hidup dengan kesepian dan ke-tenggelam-an pada pengenalan kita pada diri sendiri yang otentik.

Aktor kebudayaan (agen) atau struktur kebudayaan (struktur) saling pengaruh mempengaruhi berkelindan entah itu karena determinisme ekonomi, budaya atau historik maupun aspek hidup lainnya. Namun selalu saja kita sebagai “diri” memunculkan kebiasaan-kebiasaan lama yang kemudian diterapkan kembali dalam keputusan hidup. Di zaman dewasa ini, kita hanya menerima pengaruh sosial kebudayaan yang terberi dari struktur kebudayaan; yaitu reaksi-reaksi yang ada di luar diri kita yang mempengaruhi cara kita berpikir (worldview), bersikap, dan mengambil keputusan. Kita adalah makhluk konservatif yang cenderung menerima dengan patuh atas kejadian dan situasi yang terjadi di area struktur kebudayaan.

Kita berpikir dan menjalani sikap hidup berdasarkan tuntutan sosial dibanding mendengarkan inovasi-keterbukaan dan cara berpikir kita yang otentik; cara berpikir yang memperbaiki, mem-baru-kan situasi struktur yang eksploitatif menjadi situasi yang dicita-citakan oleh masyarakat; masyarakat yang ada di luar dan di dalam diri manusia. 

Struktur kebudayaan bukanlah orang, tempat, atau waktu eksternal di luar diri manusia, ia adalah apa yang kita ciptakan dan hanya eksis saat kita sebagai agen kebudayaan meng-aksi-kan, mengadakannya di luar diri manusia. Kita selama ini hanya menerima tuntutan struktur, apalagi dengan hasrat keinginan dunia kita yang positivitis menciptakan penerimaan dan pelaksanaan yang kaku dan terberi begitu saja. 

Fakta demikian, kita tak mencerahkan hidup yang telah rusak, dengan mewujudkan keinginan dan dialog diri kita sebagai agen kebudayaan, di iklim dewasa ini justru kita lebih mematuhi struktur. Kita melihat dan merasakan langsung kebiadaban determinisme dan penguasaan sumber-sumber hidup oleh kapitalisme eksploitatif atas determinisme ekonomi dan penguasaan mereka atas determinisme historik struktur kebudayaan manusia hingga menyentuh kebebasan diri kita atas hak asasi kita sebagai agen kebudayaan. Ketimpangan dan eksploitasi telah membuat diri kita menganggap senang dan melucuti ketelanjangan sebagian saudara kita yang lain. Mereka telanjang secara ekonomi dan terhimpit secara psikologis sebagai diri. Sehingga keputusan hidup yang mereka (saudara kita yang terjajah) hasilkan hanya berjalan di tempat awal mulai dibanding ingin sekali maju bersama dengan saudara kita yang memiliki kepemilikkan modal ekonomi cenderung lebih besar. Aturan dan ilmu pengetahuan telah diidealisasi menjadi orientasi materialistik zalim dibanding orientasi material humanistik dan harmonik. Memang selalu ada agen kebudayaan “asing” yang selalu berkeinginan kuat menjadi lebih kaya, lebih bahagia, lebih dan lebih, kemudian di kepala mereka selalu memikirkan satu kata kunci yaitu “surplus” atau “lebih” banyak dari yang lain sehingga menggadaikan ke-adab-an; nilai-nilai kejujuran dan humanisme apalagi telah lupa spiritualismenya; tindak mereka menjadi deterministik hanya untuk mencapai pencapaian ekonomi, level status sosial “lebih”, dan cita-cita lain yang mengejar setelah bayang yaitu menempati posisi “di atas” manusia lain. 

Perasaan hasrat kita yang berlebihan dan hasrat kita yang rendah tak bisa kita jadikan stimulus pengubah struktur sosial dan norma hidup di luar diri kita, dibutuhkan pemahaman ilmu dan ke-sepenuh-an hati hasrat yang deterministik untuk membalikkan situasi struktur sosial berdasarkan cara dan keadaan lawan serta atribut lawan yang zalim. Karena kamuflase adalah fitrah kita sebagai manusia, kita secara psikologis menerima dan menyukai pada sesuatu yang mirip atau sama dengan diri kita. Kita cenderung lebih suka menyerang ke-mencolok-an dan perbedaan dibanding atas kesamaan. Olehnya itu, kita tak akan mengubah struktur kebudayaan jika struktur pikiran dan sikap kita hanya memenuhi tuntutan-tuntutan sosial kebudayaan kita; kebudayaan rusak dan eksploitatif, dan tak membebaskan kita sebagai homo dualistik. Manusia yang bebas dengan unsur pemenuhan kebutuhan rohani dan fisik materalistik.

The post Hasrat Manusia Pembebasan appeared first on Kolong Kata.


Sumber: https://kolongkata.com/2020/02/29/hasrat-manusia-pembebasan/