ARUSPOLITIK.COM- Akhirnya Presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada 2 kasus konfirmasi di Indonesia. Dokter Syahrizal Syarif, Ketua PBNU bidang Kesehatan, memberikan kiat khusus dalam menjelaskan kasus Virus Corona. Hal ini menjawab 3 Hal yang menjawab di masyarakat:

Pertama itu tidak benar, Indonesia mengenal Covid-19.

Kedua, tidak benar tropis membuat virus tidak bisa hidup.

Ketiga, menepis keraguan bahwa Lab Litbangkes tidak mampu mendiagnosis Covid-19.

Munculnya 2 kasus ini sebenarnya tidak perlu ditentang di tengah-tengah fakta bahwa wabah global yang berasal dari Wuhan, Cina dan mulai minggu ke-9 ini telah menyebar ke-64 negara dan wilayah serta satu kapal pesiar.

Hanya soal waktu Indonesia yang memiliki masalah konfirmasi. Dari 2 kasus ini kita belajar tentang kasus tidak ditemukan dari pintu masuk, seperti kantor kesehatan pelabuhan, atau dari berbagai kru yang kita karantina di Pulau Sebaru. Namun, bermula dari aktivitas sosial kelompok dansa yang beranggotakan multi-bangsa.

Munculnya masalah klinis berupa demam, batik dan sesak napas yang mendorong kasus no.1 dan kasus no.2 ini ke rumah sakit. Di sinilah awalnya akan dimulai.

Kecepatan Covid-19 menular antar manusia pada angka 2-3. Berhasil dan bergejala mampu menularkan penyakitnya pada 2-3 orang lainnya.

Karena menjadi sangat penting – dalam upaya mencegah penyebaran di masyarakat dengan menemukan semua yang mereka tertular, karena mereka adalah sumber penularan.

Mereka yang harus ditemukan saat ini adalah mereka yang anggota klub sosial dansa yang hadir dalam kegiatan tanggal 14 Februari 2020.

Mereka ini dikategorikan sebagai kontak sosial yang harus dibicarakan saat ini status kesehatannya dalam rentang waktu 14-28 februari 2020. Kelompok kedua adalah kelompok tenaga kesehatan yang menangani kasus no.1 dan kasus no.2 sebelum kedua pasien dirujuk ke RSPI Sulianti Suroso. 
Kelompok ini dapat dikategorikan sebagai kontak yang berhubungan dengan mereka yang melakukan kontak pada pasien kompilasi yang sakit, saat yang mereka lakukan tidak pada pasien yang menderita Covid-19.

Status kesehatan mereka saat ini harus diakui dan mereka harus melakukan karantina diri 14 hari dengan tidak melakukan kontak dengan anggota keluarga lainnya.

Kasus konfirmasi yang dikeluarkan dari karantina kapal pesiar Diamond Princess di Yokohama, tanyakan pada kita tentang 20-50 persen kasus tanpa gejala, hasil lab positif, namun siapa yang tidak memiliki gejala. 
Ada tanggapan terhadap 71 tenaga kesehatan yang saat ini diawasi dilakukan pemeriksaan lab.

Munculnya masalah ini menjadi perhatian bagi pemerintah. Karena perang yang sebenarnya baru dimulai. Perlu Tim khusus di tingkat Nasional, perlu dukungan anggaran yang jelas untuk melakukan tugas deteksi dini.

Penemuan tersangka di pintu masuk bandara, laut dan perbatasan. Perlu alat angkut ambulans yang memenuhi persyaratan alat angkut pasien diantisipasi, surveilans aktif, penelusuran penelusuran.

Bagi rumah sakit, perlu Peningkatan Kualitas dan pengiriman spesimen yang tepat. Disamping itu kesiapan ruang isolasi yang memadai. 
Para petugas kesehatan, medik dan paramedik perlu memperhatikan keselamatan diri dalam pelayanan dan melakukan surveilans aktif influenza seperti penyakit, dengan perhatian khusus untuk kasus-kasus broncho- pneumonia dan pneumonia.
Masyarakat perlu menjaga kebersihan. Batalkan kunjungan ke negara negara terjangkit yang parah seperti Korea Selatan, Iran dan Italia.

Sering mencuci tangan, hindari kerumunan di daerah yang memerlukan konfirmasi, mis kota Depok. Pakai masker jika batuk pilek.

Makan dan tidur yang cukup. Ikuti pengaturan dan pengaturan yang diperlukan akan diatur jika diperlukan.(**)

The post Antisipasi Corona, Sering Mencuci Tangan Menghindari Kerumunan appeared first on aruspolitik.

Sumber: https://www.aruspolitik.com/2020/03/03/antisipasi-corona-sering-mencuci-tangan-menghindari-kerumunan/