BugisPos – Belakangan ini muncul sejenis promosi yang luar biasa, yang menempatkan gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (NA) sebagai salah satu figur yang layak jadi capres atau calon presiden di republik ini. Padahal pemilihan presiden masih terlalu jauh ke depan. Masih terlampau dini.

Promosi ini sah-sah saja. Siapa pun boleh berpendapat dalam tatanan sebagai subjek demokrasi. Mau bicara tentang NA layak atau tidak layak masuk bursa capres, adalah hak setiap orang untuk bicara, hak beprendapat.

Tetapi, dalam pandangan saya, NA sesungguhnya belum waktunya didorong-dorong menjadi calon pemimpin mansional. Sebab tugas berat yang dihadapi NA sebagai pemimpin Sulsel masih setumpuk. Orang bahkan boleh bertanya, ada apa sebetulnya sehingga NA yang masih pagi-pagi, yang masih di awal-awal memimpin provinsi yang punya seabrek masalah ini, begitu cepatnya didorong-dorong ke kancah kepemimpinan nasional.

Situasi seperti ini, dalam pandangan saya, adalah situasi yang sengaja diciptakan orang tertentu, agar NA cepat-cepat meninggalkan kursi gubernur, dengan mengarahkannya ke belantara nasional yang belum jelas ujung pangkalnya.

Semangat membangun negeri yang dimiliki NA di Sulsel, bisa saja diartikan sebagai aset masa depan bangsa ini. Tetapi jangan lupa, Sulsel ini masih sangat membutuhkan pemimpin seperti NA yang peduli membangun infrastruktur sebagaimana yang dibutuhkan daerah. NA memulai pembangunan fisik dari Seko, menuju ke semua arah bagi pepentingan rakyat.

Masih begitu banyak kebutuhan infrastruktur yang butuh pembenahan, misalkan saja jalan Malino poros Sinjai butuh dilebarkan. Jalan poros Gowa-Sinjai yang baru sedang dilebarkan. Jalan-jalan tembus ke desa-desa menunggu semua dituntaskan, jalan tembus yang layak antar daerah juga menanti. Belum lagi enam rumah sakit regional yang sudah diprogram menanti dituntaskan, belum lagi sejumlah aset pemprov yang mesti diamankan semua. Juga berbagai pembangunan fisik yang perlu tuntas auditnya untuk segara dianjutkan. Semua ini tentu menjadi tugas berat gubernur NA untuk menuntaskan semuanya.   

Bahwa mereka yang mendorong-dorong NA ke kancah kepemimpinan nasional, bisa jadi menimbulkan rasa curiga, jangan-jangan mereka itu sengaja memompa-mompa gubernur untuk meninggalkan Sulsel, agar mereka bisa leluasa untuk bersiap-siap mengestafet kepemimpinan di Sulsel sesegera mungkin. Ya sejenis syahwat politik yang masih mebara. Mungkin saja seperti itu.

Hal-hal seperti itulah semua yang bisa saja berakibat matinya langkah NA yang tengah gencarnya membangun Sulsel. Atau mungkin saja memang tujuan utamanya bagaimana cara terbaik mematikan langkah NA di tengah jalan. Wallahualam.

Bahwa dengan mendorong NA ke pilpres yang sungguh masih jauh itu, sudah bisa dibayangkan betapa beratnya hal itu bisa ditempuh. Bayangkan saja, bila di Indonesia tumur hanya punya pemilik hak suara sekitar 30 juta, menghadapi Surabaya saja yang punya 70 juta pemilih yakin sudah bisa keok. 

Artinya putra Sulsel di kancah pilpres ke depan masih harus berfikir 70 kali. Beda dengan JK, yang memang punya modal besar untuk event seperti itu. Juga sudah jauh lebih dulu bermain di tingkat nasional, bahkan pernah jadi menteri dan ketua DPP Golkar. 

Editor : Zhoel

Sumber: https://bugispos.com/2020/02/26/jangki-matikan-nurdin-abdullah-di-tengah-jalan/